Dulu sepi, kini ramai: Sisi baik dan sisi ''kehilangan'' dari kampungku yang makin maju

Desa Girimukti tepatnya di kampung Pasir jambu, Girimukti bisa dibilang sunyi dan sepi dan maklum desa kami ini kadang ada yang menyebut desa tertinggal, masa kecil saya kehidupan sangat bergantung pada sektor pertanian, rumah- rumah penduduk masih sederhana terbuat dari kayu, jalan, lisrik tidak ada dan itu dulu

lain certai dengan sekarang, jalan sudah di aspal, listrik sudah masuk, signal Handphone sudah tidak sulit lagi, penduduk meningkat, pendidikan dan fasilitas lainnya sudah banyak di bangun

Konteks perubahan ini sepertinya memberi jalan untuk kemajuan dalam segala hal. Perubahan pasti bakal terjadi karena kemajuan jaman,

kemajuan  membawa kemudahan tapi tak jangan mengikis hal-hal yang dulu di anggap biasa dan menjadi pertanyaan bisakah tanpa kehilangan  ''Jiwa kampung''

Kilas Balik: ''Dulu sepi" yang penuh makna

Desa yang penuh dengan kedamaian, tenang, damai dengan adanya kemajuan tentu memeliki banyak perubahan, sesama tetangga saling menyapa dan senda gurau di sore hari membuat suasana kampung terasa damai dan penuh makna

Kehidupan saling tolong menolong adalah menjadi hal yang sudah biasa dan tidak bisa di pisahkan dari kehidupan sehari -hari masyarakat desa, dan hal ini lah menjadi tolak ukur hidup di desa itu nyaman dan damai

Aktifitas has kampung pada umumnya adalah bertani walapun sebagian dari penduduk adalah berdagang, kantor, bertani dan berjalan di pasar walapun dalam jumlah relatif kecil 

Sore hari anak- anak pergi ke mesjid sepualang sekolah menjadi pemandangan hal biasa, pergi jam 3 sore dan pulang selepas maghrib itu sudah rutin anak-anak desa lakukan dan tak jarang usia Sekolah Dasar sudah bisa baca Al-Qur'an sangat fasih,tentu hal ini bukan tidak mudah tapi memeliki perjuangan yang panjang

''Kini Ramai'': Sisi Baik dari Kemajuan Kampung

Infrastruktu dan akses ke desa Girimuki untuk saat ini sudah di kataka maju terbukti listrik, jalan  dan signal handphoen sudah layakanya desa yang lain, tentu dengan adanya perubahan ini tidak lepas dari para pemangku kepentingan, maka dari itu kami sangat mengucapkan banyak terima kasih

Peluang ekonomi dengan adanya kemajuan ini tentu bisa dengan mudah bagi orang yang memanfaatkan adanya peluang ini, misalnya tumbuh UMKM, warung kopi,  dan lain sebagainya dan adanya fasilitas tersebut sedikit demi sedikit pendapatan masyarakat meningkat, walapun tidak seperti orang kota pada umumnya, tapi perubahan itu ada

fasilitas publik dengan adanya kemajuan jalan, listrik bisa mendorong ke fasilitas yang lainnya seperti sudah adanya Pustu (Puskesmas Pembantu, SMP dan SMK dan walpaun untuk saat ini masih terbatas dan Pustu masih kurang berjalan dengan baik karena keterbatasan petugas begitupun dengan sekolah masih ada keterbasan pengajar

Majunya fasilitas di suatu daerah tentu mendorong masyarakt ke arah mobilitas tinggi, dan dulu di cap desa tertinggal mungkin lambat laun  terhempaskan dengan adanya fasilitas yang lengkap dan kampung Pasir Jambu tak lagi  kampung pinggiran 

dulu hendak pergi kota perlu jalan kaki beberapa KM, baru naik kendaran, tapi sekarang alhamdullilah bisa naik dari rumah sampai tujuan

Sisis ''Kehilangan'' yang perlahan terjadi

Lingkungan yang dulu sawah sedikti demi sedikit berubah jadi pemukiman walapun dalam jumlah kecil tapi perubahan itu ada, itu sebabnya dampak yang bisa kita rasakan adalah alih pungsi lahan dari hutan ke perkebunan, dari sawah ke pemukiman dan yang dampak buruknya adalah perubahan lingkugnan misalnya air tercemar, bajir ataupu longsor walapun itu jarang terjadi


pedesaan-girimukti

Ikatan social yang bisa dirasakan adalah orang-orang sedikit demi sedikit lebih individualis walaupun budaya baik itu masih di ada bukan tidak mungin orang desa akan seperti orang kota yang mementingkan diri masing- masing

Identiitas dan kearifan lokal sedikit demi sedikit  akan ditinggalkan hal ini terjadi karena orang yang biasa memelihara kearifan lokal kebanyakan sudah tiada, dan ada sebagian kecil orang memelihara budaya nenek moyang beragapan tahayul seperti tradisi ''mitemeyan'' ( saat panen padi) untuk saat ini sangat sulit menemukan tradisi tersebut

Tidak muluk- muluk contoh kecil anak pedesaan jaman sekarang tak lagi di ajarkan bahasa Sunda sebagai bahasa Ibu,  tapi lebih belajar bahasa Nasional , dan tentu saja hal ini bisa menghilangkan kekhasan bahasa daerah, dan lambat laun bahasa sunda bisa hilang di anak-anak desa

Kerinduan pada kebiasaan orang jaman dahulu bisa kita rasakan di kemudian hari, bahasa sunda tidak lagi di gunakan bahasa sehari-hari,  dan kekhawatiran itu pasti ada dan bisa ''asing di tanah sendiri'' dan kekhawatiran  generasi mendatang tak mengenal akarnya

Mencari titik tengah :Merangkul perubahan, menjaga akar

pedesaan yang asri

Perubahan pasti terjadi akan tetapi perubahan itu harus menjaga akar, cara yang bisa kita lakukan adalah merawat kampung, festival budaya dll

Hal kecil yang bisa kita lakukan sebagai anak kampung adalah menjaga tradisi, budaya, adat istiadat seperti  ''Hari jadi Desa Girimukti'' hal ini sederhana tapi bisa mengingkatkan ke sejarah jaman dahulu , walapun tidak terlalu meriah tapi dengan adanya kegiatan hari jadi desa sudah menjadi pengingat bahwa hidup itu tidak ''ujug-ujug'' tapi ada proses

Perubahan itu keniscayaan, tapi pilihan kita yang mementukan arahnya, jaman tidak bisa di bendung, tapi siapa kita dan yang menentuka kitan, 

''Bagaimana kampungmu? Apa satu hal yang kamu ingin jaga meski dunia terus berubah?''

Ayo teman-teman, saudara apa yang bisa kita bendung dari perubahan ini, kita harus jaga daerah kita dengan gempuran jaman yang terus maju, siapa lagi yang akan merawat budaya dan kampung kita selain diri kita masing-masing

Salam !!

Acer

Hallo Salam kenal dari Blog Cisewu, hobi saya menulis yang berkaitan dengah kegiatan sehari-hari dan news trend

Post a Comment

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Previous Post Next Post

Contact Form